loading...

FENOMENA LEBARAN; Silaturahim dan Bermaaf-maafan

Silaturahim; Diluaskan Rizki dan Dipanjangkan Umur
Bulan Syawal menjadi hari gembira bagi umat Islam di Indonesia, terlebih perayaan ‘Idul Fitri yang biasa disebut lebaran terasa begitu semarak. Jauh hari masyarakat urban berbondong-bondong mudik kekampung halaman. Pulang kampung selama lebaran menjadi tradisi tahunan yang bertujuan untuk bisa bersilaturahim bersama keluarga dan sanak saudara. Walaupun hanya semacam tradisi, silaturahim sendiri didalam ajaran Islam sangat dianjurkan. Bahkan Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah menyambung tali silaturahim.” (Muttafaq ‘alaih).

Jadi silaturahim memang memiliki keunggulan yang luar biasa untuk kemaslahatan umat. Di Indonesia sudah jamak tatkala sesama muslim bersilaturahim biasanya diwujudkan dalam bentuk halal bi halal dan dimanfaatkan untuk saling bermaaf-maafan. Meskipun diantara mereka mungkin tidak pernah saling berbuat salah. Hal ini tentunya juga sebuah tradisi yang Islami, dan selaras dengan Al Quran. Pada hakekatnya Islam mengajarkan kepada umat supaya menerapkan sifat “afwun” (pemaaf) itu dalam jiwanya. Artinya setiap saat dimanapun tempatnya kita harus memiliki sifat pemaaf, tidak harus menunggu satu tahun untuk saling bermaaf-maafan.
Kesempatan Menjadi Pemaaf
Hari ini saya bertemu dengan keluarga, sanak saudara dan teman-teman, kami bersilaturahim dan saling bermaaf-maafan. Yah.. hari ini hari Lebaran, sudah menjadi tradisi setiap lebaran untuk saling silaturahim serta bermaaf-maafan, dan tradisi seperti ini juga berlaku pada umumnya masyarakat di Indonesia. Bermaaf-maafan disaat lebaran sepertinya menjadi sesuatu yang lumrah, meskipun tidak pernah saling berbuat salah. Tetapi mengapa bermaaf-maafan mesti menunggu satu tahun, tidakkah lebih baik jika jiwa pemaaf bisa menjadi jati diri, seperti yang diajarkan dalam Al Quran? Bahkan jika jiwa pemaaf bisa diterapkan dalam keseharian, mungkin tidak akan ada lagi perselisihan. Lihat saja manakala orang menjadi pemarah ketika antrian di loket kereta api diserobot, atau kendaraannya diserempet ketika macet di jalan, bahkan berkelahi hanya karena tersinggung dipelototin orang lewat, sangat memprihatinkan bukan? Mari kita renungkan, bagaimana bisa menjadi orang yang berjiwa pemaaf dalam setiap kesempatan.
Tingkatan Derajat “Afw” (Pemaaf)
Setiap manusia bisa menjadi seorang Pemaaf, tetapi tidak semuanya mencapai kedudukan yang tertinggi. Al Quran mengklasifikasikan derajat “Afw” (Pemaaf) dalam tiga tingkatan, yaitu (QS. Ali Imran 134):
1.      “Wal kadhiminal ghaidha” (menahan marah), yaitu apabila disakiti dapat mengekang kemarahannya.
2.      “Wal ‘afiina ‘anin naas” (memaafkan tanpa syarat), yaitu dapat memaafkan dan mengampuni orang yang bersalah.
3.      “Wallaahu yuhibbul muhsiniin” (memberikan kebaikan), yaitu orang yang disakiti tidak hanya bisa menahan marah dan memaafkan, tetapi juga bisa memberikan kebaikan kepada orang yang bersalah, sehingga orang yang bersalah tersebut justru mendapat anugrah dan memperoleh hikmah untuk memperbaiki kesalahannya.
Sikap Orang yang Bersalah
1.      “Dzakarullaaha” (ingat kepada Allah), yaitu yaitu berhenti, sesali dan tidak mengulangi kesahannya.
2.      “Fastaghfaru lidzunuubihim”, yaitu memohon ampunan kepada Allah SWT dan meminta maaf kepada manusia (lunasi hutang/ kesalahannya)
Semoga di bulan Syawal ini kita benar-benar menjadi insan yang lebih baik dari sebelumnya.
PUASA SYAWAL
Dari Tsauban, Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal].”

(HR. Ibnu Majah & dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dlm Irwa’ul Gholi)

FENOMENA LEBARAN; Silaturahim dan Bermaaf-maafan | caralengkap | 4.5
loading...