loading...

PENGORBANAN DI JALAN ALLAH SWT (Bag. II)

Unsur Berhasilnya Pengorbanan
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْىَ قَالَ يبُنَيَّ اِنِّىْ اَرى فِى الْمَنَامِ اَنِّىْ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرىط قَالَ ياَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُز سَتَجِدُنِىْ اِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّبِرِيْنَ
Dan ketika anak itu telah berusia cukup untuk dapat berlari-lari bersama dia, berkatalah ia, “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu sebagai kurban, maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia berkata,”Hai bapakku, kerjakanlah apa yang telah diperintahkankepada engkau, insya Allah engkau akan mendapatiku, diantara orang-orang yang sabar”.[Ash Shaffat 37:102]
1.      Taufik; sikap atau keputusan untuk berkorban adalah taufik dari Allah SWT, sehingga ketika mendapat kesempatan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kesempatan belum tentu datang lagi, jadi jangan disia-siakan.
2.      Khidmat; pengorbanan semata-mata bertujuan mengkhidmati bukan mengharapkan imbalan atau dikhidmati.
3.      Taat; sikap ini harus senantiasa melekat bagi orang yang berkorban, yaitu tunduk dan patuh terhadap segala keputusan sebagai bentuk kesetiaan terhadap Perintah atau aturan Syariat
4.      Loyal; semua tindakan yang dilakukan semata-mata untuk kepentingan Allah SWT
5.      Faqiranah/ hidup sederhana; dengan kehidupan inilah pengorbanan bisa dilestarikan
6.      Sabar; pengorbanan layaknya sebuah cobaan, sehingga butuh kesabaran & ketabahan.
7.      Ikhlas; memiliki kerelaan tidak ada penyesalan, justru berkeinginan untuk terus dan meningkatkan pengorbanan, tandanya ada kebahagian dalam berkorban.
8.      Do’a; dengan do’a mengharap keridhoaan Nya, menjadikan pengorbanan lebih mudah.
Apa yang dikorbankan
أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Mereka itu akan diberi ganjaran mereka dua kali, karena mereka telah bersabar dan mereka menolak keburukan dengan kebaikan, dan dari apa yang Kami rizkikan kepada mereka, mereka belanjakan. [Al Qashash 28:54]
Berkorban bisa dalam bentuk apapun, pada prinsipnya ada sesuatu yang dikorbankan, bisa berupa harta, waktu, kehormatan, keluarga bahkan nyawa sekalipun. Tetapi adakalanya itu semua terasa berat untuk kita korbankan.  Maka dalam kondisi ini, bukan kita yang memiliki harta tetapi hartalah yang memiliki kita, sehingga menjadi budaknya. Sebenarnya apa yang menyebabkan perasaan ini timbul?
Ketika seseorang berkorban, pada hakikatnya bukanlah harta, waktu, kehormatan atau nyawa yang kita korbankan, tetapi “rasa memiliki” lah yang sedang dikorbankan. Segala sesuatu adalah milik Allah swt dan akan kembali kepada Nya, tetapi karena begitu kuat “rasa memiliki”, hal itu menjadi penghalang untuk melihat Tuhan sebagai sang Pemilik Sejati. Jika kita telah mampu  menyerahkan semua yang “merasa kita miliki” kepada Tuhan yang memiliki segalanya, maka dalam kondisi ini ia mencapai derajat “fana fillah” dan berhasil menyentuh makna “laa ilaaha illallah”. Tentunya hal ini harus disertai dengan keikhlasan, cirinya adalah adanya kebahagiaan, tidak merasakan beban, yang ada hanya kenikmatan yang membuatnya ketagihan dan semakin semangat dalam mencintai Tuhan. Kondisi ini akan membawa seorang hamba pada ruh tertinggi keikhlasan pengorbanan dalam mencintai Tuhan yaitu “Inna lillaahi wainna ilaihi raji’un”.
Hazrat Khalifatul Masih II ra bersabda,” … Kelebihan yang kedua dijelaskan bahwa وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ Apapun yang kami berikan kepada mereka, kami belajakan sebagiannya. Yakni nikmat apapun yang Allah Ta’ala anugerahkan kepadanya, mereka belanjakan untuk kemaslahatan dan kemakmuran umat manusia, mereka tidak hanya membelanjakan rupiahnya untuk fakir miskin, tapi apapun yang Kami berikan kepada mereka, mereka selalu belanjakan satu bagiannya untuk orang lain. Didalam bahasa Arab rizq artinya segala sesuatu anugerah Allah Ta’ala, sebagaimana harta juga termasuk kedalam rizq, ilmu dan kekuatan juga, rizq yang berarti biji-bijian, itupun termasuk kedalam rizq. Waktu juga termasuk kedalam rizq. Maksudnya rizq adalah segala sesuatu yang memberikan faidah bagi manusia dalam corak apapun. Dengan mengatakan وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ ditekankan bahwa apapun yang Allah Ta’ala berikan, hendaknya dibelanjakan untuk kemaslahatan manusia.
Kalau ada orang yang mempunyai keahlian tapi karena tidak berharta sehingga dia tidak bisa memanfaatkan keahliannya, maka kalian tolonglah dari sisi harta. yang tidak memiliki apa-apa untuk dimakan, berikanlah dia sesuatu untuk dimakan, dia yang tidak punya apa-apa untuk diminum, berikan dia sesuatu untuk diminum. Mereka yang tidak punya sesuatu untuk dipakai, berikanlah sesuatu untuk dipakai.
Sesuai dengan hal itu, Hazrat Khalifatul Masih Awwal menyampaikan satu kisah menarik, bahwa ada seorang tua yang sedang terus-menerus membaca Al-Qur’an Karim, dia menggunakan mulutnya untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an, menggunakan matanya juga untuk melihat kalimat-kalimatnya, dan jari juga menunjuk ayat-ayat seiring pembacaan ayat-ayat. Seseorang bertanya kepadanya,” Apa yang sedang kamu lakukan ini? Dia menjawab,” Allah Ta’ala telah menganugerahkan ketiga bagian tubuh ini, kalaulah aku hanya membacanya (Al-Qur’an) dengan mulut saja, maka Allah Ta’ala akan bertanya, kenapa kamu tidak memanfaatkan tangan dan mata kamu? Kalau aku hanya menggunakan mulut dan tangan saja, maka Allah Ta’ala akan bertanya, kenapa kamu tidak menggunakan mata juga? Dan kalau membaca Al-Qur’an hanya dengan mata saja, tapi tidak menggerakkan mulut dan tangan, maka Allah Ta’ala akan bertanya, kenapa kamu tidak memanfaatkan ini, karena itulah aku menggunakan ketiga bagian tubuh ini dalam satu waktu.
Maksudnya adalah Allah Ta’ala menjelaskan kelebihan orang-orang yang beriman diantara ahli kitab bahwa didalam hati mereka terdapat kecintaan yang begitu mendalam kepada umat manusia, sehingga apapun yang mereka dapatkan, pasti mereka belanjakan satu bagiannya untuk manfaat dan kemaslahatan orang lain. Dengan hanya memberikan rupiah saja, mereka tidak menganggap bahwa mereka telah melaksanakan hak-hak pengkhidmatan, bahkan mereka mengikut sertakan orang lain juga dalam menikmati setiap pemberian Allah Ta’ala, begitu juga mereka berupaya untuk meninggikan standard kehidupan.
[Kutipan Tafsir Kabir jilid 7, Hal. 523-524, diterj. Mahmud Ahmad Wardi]
Perlulah kita ingat bahwa ketika kita mati ada tiga hal yang akan mengiringi kita kekuburan yaitu harta, keluarga dan amal kita, tetapi yang dua pertama akan kembali kerumah sedang yang menyertai kita hanya yang ketiga yaitu amal perbuatan (pengorbanan) kita. Pengorbanan merupakan salah satu bentuk amal yang akan menyertai dan menyalamatkan kita di akhirat.
*Bersambung….
*Kesempatan dan Waktu Berkoban yang Tepat

Untuk Bagian Pertamanya bisa baca dibawah ini:

PENGORBANAN DI JALAN ALLAH SWT (Bag. I)
Mengenai Arti Pengorbanan dan Hakikat Ruh Pengorbanan

PENGORBANAN DI JALAN ALLAH SWT (Bag. II) | caralengkap | 4.5
loading...