Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Masih Awam, Kurang Sosialisasi atau Karena Harga Mahal?

artikel

CaraLengkap.com - Edukasi besar-besaran menjadi perhatian penting Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dalam upaya pengimplementasian Bahan Bakar Minyak (BBM) ramah lingkungan guna mewujudkan program langit biru. Lantas, apa yang tengah dirasakan dengan kondisi saat ini? 

Benarkah kita tak bisa lagi menikmati udara yang baik dan salah satu penyebabnya adalah bahan bakar kita yang tidak ramah lingkungan?

Pada Februari lalu, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta menyatakan penerapan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) selama pandemi Covid-19 berdampak positif bagi kualitas udara. Hal ini disebabkan berkurangnya mobilitas masyarakat karena pembatasan aktivitas, fasilitas umum, serta transportasi sehingga angka pencemaran udara menjadi berkurang.

Dilain pihak, kita juga perlu menciptakan kondisi kota yang senantiasa bebas polusi udara bukan hanya di DKI Jakarta, namun juga di provinsi lainnya. Untuk mewujudkan udara bersih dan bebas polusi, mau tidak mau target untuk mewujudkan jenis BBM ramah lingkungan berstandar Euro 2 ini menjadi suatu keharusan karena sumber pencemar udara terbesar disebabkan dari transportasi darat sebesar 75%. 

Seperti apa kondisi penyebaran udara di Indonesia dan bagaimana sejauh ini progres penerapan bahan bakar ramah lingkungan di Indonesia?

Ketua pengurus harian YLKI, Tulus Abadi, mengungkapkan terjadi inkonsiten terhadap implementasi program langit biru yang ia sampaikan pada diskusi umum program khusus KBR, melalui rangkaian webinar yang diadakan pada hari Jum’at, 19 Maret 2021.

Pemerintah sudah memiliki program langit biru sejak tahun 1996, artinya sudah 25 tahun silam. Namun, sampai saat ini tak kunjung mengurangi ketergantungan pada energi fosil khususnya pada BBM karena penggunaanya sangat dominan menunjang aktivitas sehari-hari. ”Dalam perjalanannya, pemerintah masih kurang konsisten menjalankannya dan bahkan pada 2015, Presiden Jokowi menghadiri Paris Protocol on Climate Change di Paris untuk menandatangani komitmen itu dan sudah disahkan di UU untuk mengurangi emisi gas karbon sampai 40% untuk 2030”, jelasnya.

Screenshot 18 - CaraLengkap.Com - Semua Ada Caranya!
Foto : Live Youtube KBR 

Di sisi lain, ahli ekonomi, Faisal Basri, juga mengungkapkan, dalam hal ini berlaku hukum permintaan. Artinya semakin murah suatu barang maka akan semakin banyak dibeli masyarakat. Mau tidak mau harga yang paling utama. Persoalannya adalah terlewatnya momen yang tepat untuk menghapus premium itu sendiri, ketika ingin beralih pun, industri otomotif juga menjadi polemik. “Ditengah pandemi kita perlu bertransformasi di segala bidang kehidupan antara lain transformasi BBM dri yang tidak ramah lingkungan ke ramah lingkungan. Kedua, dari yang namanya industri otomotif, jika produksinya sudah standar euro 4, konsumen akan secara gradual akan menyesuaikan dengan edukasi yang sudah ada,” ungkapnya.

Lantas, apa kesulitan terbesar masyarakat beralih ke bahan bakar ramah lingkungan? Apakah terjadi disparitas harga ini akhirnya masyarakat ogah untuk melakukan pergantian konsumsi bahan bakar? Sampai kapan kita harus berdebat dengan persoalan harga? Benarkah negara kita termasuk harga BBMnya mahal untuk mendapat kualitas terbaik? Terlalu banyak pertanyaan mengenai harga yang menjadi hal sensitif namun selalu menjadi pilihan.

Saat ini, Indonesia menjadi satu dari tujuh negara yang masih menggunakan Premium. Orang-orang masih banyak yang tidak peduli terhadap kulitas karena ketika kendaraan memang masih dalam keadaan bisa beroperasi, maka menggunakan BBM premium akan terus digunakan apalagi dengan harganya yang lebih murah. Perbedaan harga dari premium ke pertamax cukup tinggi, premium sekitar Rp6500, Pertalite di angka Rp7600 sementara pertamax sekitar Rp9000.

Oleh karena itu, sebagai konsumen BBM, masyarakat juga harus sadar penggunaan BBM yang tidak ramah lingkungan semisal premium, secara tidak langsung juga mengalami kerugian 2x lebih besar. Dalam segi keuangan yang awalnya untuk menghemat karena harganya yang relatif murah, ternyata penggunaan premium dalam jangka panjang akan lebih tekor dikarenakan kualitas yang rendah menurunkan kemampuan jarak tempuh. Dan juga konsumen pada akhirnya harus mengeluarkan uang yang lebih banyak untuk maintanance atau perawatan mesin kendaraan.

zoom - CaraLengkap.Com - Semua Ada Caranya!
Foto : Zoom Meeting

Sayangnya, kesadaran masyarakat akan penggunaan BBM tidak berstandar euro dapat merusak lingkungan dan kesehatan masih lemah. Jadi, secara tidak langsung talkshow yang diselenggarakan YLKI melalu program khusus KBR ini menjadi upaya menagih janji dan mendorong keseriusan pemerintah untuk konsisten dan komitmen untuk mewujudkan langit biru dengan tidak bergantung pada energi fosil atau BBM yang tidak ramah lingkungan.

Berbagai respon juga dilayangkan oleh masyarakat mengenai program langit biru ini. Bagaimanapun kedepannya untuk generasi selanjutnya, kita harus ada proses karena untuk langsung menghilangkan itu memang sulit apalagi dengan kondisi pendidikan masyarakat yang beragam. Masyarakat juga berharap sosialisasi lebih gencar lagi dilakukan, karena sampai sekarangpun sebagian masyarakat belum tahu menahu tentang program ini. Kemunculan pro kontra juga tak dapat dihinndari apalagi untuk kalangan menengah kebawah pasti akan mencari yang lebih murah.

Ini akhirnya menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk terus menguatkan komitmen dan konsisten terhadap kebijakan yang telah dibuat. Tanpa komitmen dan konsisten, mustahil upaya untuk mencapai langit biru. Indonesia akan semakin tercemar sebagai produsen emisi karbon di dunia. Ini saatnya menyadari hal itu karena dampak dari  emisi karbon yang sangat dominan sudah sangat dirasakan saat ini. Banyaknya bencana di Indonesia, mulai banjir sampai wabah penyakit, semua dipicu dengan adanya kerusakan lingkungan yang harus kita sadari. Tidak melulu hanya soal harga, tapi juga risiko yang  akan terjadi kedepannya.

Artikel Bermanfaat Lainnya